KONSPIRASI SEMESTA
Selamat Datang Masa Lalu
Aku ingin membunuh waktu.
Aku ingin membuatnya tak bernyawa dan berhenti menyiksaku dengan detik-detik yang hanya membuat penantian tak pastiku semakin panjang, seolah tanpa ujung.
Aku ingin keluar dari ruang gelap yang menyekap ini, aku ingin terbang. Menemuimu. Menjelakan semuanya. Menceritakan apa saja yang ingin aku ceritakan, yang ingin kau tahu, yang akan membuat kita keluar dari sumur kebingungan dan kembali seperti dulu lagi. Kembali pada perasaan yang sama. Pada pertanyaan-pertanyaan yang harus kau jawab segera atau sudah terlanjur kadaluwarsa?
Aku ingin pergi. Meski sebenarnya aku takut.
Bagaimana jika sebuah pertemuan yangbegitu diharapkan justru memicu keterpisahan abadi yang tak terelakan? Bukankah lebih indah terkurung dalam keterpisahan, tapi bayangan tentangmu menetap disini, berbaring nyaman ditaman jiwaku.
Inilah perasaanku detik ini, dan boleh jadi detik-detik selanjutnya dalam kehidupanku. Perih, pedih, hampa, atau kata apa aja yang mewakili rasa tak berdaya ini. Terlalu bnyak hal buruk didunia ini yang terlihat indah hanya karena terbungkus kemasan, seperti halnya kebodohan yang selama ini terlanjur kuanggap sebagai kesetiaan.
Harusnya aku sadar, cinta tak mungkin selamanya menunggu. Ia isa kadaluwarsa bila tak diperlakukan sebagaimana mestinya.
Kuningan, Juni 2016
Aku yang didera rindu.
Ada titik air mata yang mengalir membasahi pipi usai membaca ulang tulisan dibuku harianku itu. Bisa saja sebenarnya, tapi aku tak ingin membendungnya. Kubiarkan air itu mengalir titik demi titik. Tentu saja ada bekas yang ditinggalkan. Menyadari bahwa kita pernah terluka, boleh jadi adalah cara paling mudah untuk menghimpun rasa syukur, tentang betapa beruntungnya kita. Untuk sampai pada titik itu, kadang yang kita butuhkan hanyalah waktu dan kesabaran.
Allah menciptakan begitu banyak pasangan pertanyaan-jawaban, tapi tak selalu menurunkan keduanya dalam waktu yang sama. Betapa banyak pertanyaanku waktu kecil yang baru bisa terjawab ketika aku sudah beranjak dewasa. Akupun percaya, dikolong langit ini, setiap orang selalu punya pertanyaan sulit didalam hidupnya.
Aku dan dia telah bersabar sehebat yang kami bisa, juga berbuat apa yang mampu kami perbuat. Allah juga telah menjawab doá-doá kami, menyembuhkan pedih perih luka dalam jiwa kami. Bukankah kini hidup kami sempurna?
Aku rela menyisihkan banyak waktu demi mengenang perasaan mahadahsyat itu, badai yang menerjang pekarangan hatiku 3 tahun yang lalu.
“Saya Faris” sapanya ketika kita memulai perbincangan lewat ponsel. Ada dinding yang seketika runtuh, serupa benteng yang digempur ribuan meriam secara bersamaan. Dalam kondisi itu seharusnya aku berlari, bersembunyi didalam bungker antinuklir paling mutakhir dengan cara masuk paling rahasia. Namun pada kenyataannya, aku bertahan. membiarkannya mengerahkan seluruh pasukan artileri untuk melepaskan ribuan anak panah yang melesat dengan kecepatan tinggi. Hingga akhirnya aku mnyadari bahwa ribuan anak panah itu kini telah bersarang didalam hatiku.
Ada sesuatu yang tak biasa bergejolak didalam hatiku. Seketika aku mengingat segalanya tentangnya. Bagaimana ia mengenakan tali sepatu, bagaimana ia bersahabat dengan kuda besinya itu.
Dia. Seseorang yang pernah memberiku ucapan ulangtahun dengan videonya yang sangat indah. Seseorang yang telah mengenalkanku pada dunia yang sunyi namun menyenangkan. Seseorang yang membersamai setiap langkah yang aku ambil. Seseorang yang pernah berucap bahwa akulah yang terakhir. Seorang laki-laki dengan semua yang ada pada dirinya.